Jumat, 01 Januari 2010

Menyehatkan Kembali Hubungan PAN-Muhammadiyah

Ditulis oleh : Mohammad Ichlas El Qudsi, M.Si

Sebagai sebuah partai politik, PAN membutuhkan energi sosial yang lebih baik dan konsisten (istiqomah) tidak saja pada aspek kuantitas tapi juga kualitas, energi sosial tersebut diharapkan akan turut memberikan kekuatan dalam mendorong PAN ke depan lebih progresif dan menjadi kompetitor terbaik pada pemilu-pemilu yang akan datang. Konsekuensi dari menata kembali kekuatan sebagai sebuah partai politik, maka PAN harus segerah menyadari berbagai potensi sosial spesifik yang selama ini turut membesarkannya.

Meskipun hari ini PAN telah merekonsepsikan dirinya sebagai partai plural, dimana hal ini memungkinkan PAN memiliki akseptabelitas berupa perolehan suara diseluruh lapisan sosial masyarakat. Akan tetapi PAN tidak bisa menafikan bahwa sebagai sebuah partai perjuangan, PAN harus memiliki basis massa ideologis, karena hanya dengan kekuatan inilah kekuatan PAN akan kembali terkonsilidasi dan terhimpun dalam suatu semangat perjuangan, bukan semangat kepentingan pragmatis sesaat.

Salah satu kekuatan ideologi PAN adalah basis massa Muhammadiyah, ini fakta sosiologis-historis, bahwa PAN pada masa lalu (1998) adalah bagian integral dari artikulasi kepolitikan Muhammadiyah, artinya kehadiran PAN dalam pentas perpoltikan Indonesia adalah hasil dari sebuah ijtihad politik Muhammadiyah, dan keterlibatan kader-kader terbaik Muhammadiyah di PAN dimasa-masa awal PAN didirikan adalah bukti nyata bahwa secara psiko politik dan sosio-historis, PAN dan Muhammadiyah adalah suatu jalinan yang harus terus dicari format terbaiknya dalam merumuskan agenda-agenda perjuangan ke depan.

Jika kita mereview, maka eksistensi PAN hari ini merupakan bentukan dan setting sosial masa lalunya, PAN tidak bisa melepaskan diri dari masa lalunya, dan keniscayaan ini memposisikan Muhammadiyah sebagai bagian inti masa lalunya.

Harus diakui bahwa persandingan PAN dan Muhammadiyah tidak sebatas sebuah hubungan political agreements atas kepentingan-kepentingan politik belaka, akan tetapi lebih dari itu, hubungan PAN-Muhammadiyah adalah struggle agreements, sebuah konsensus dalam mencari rumusan-rumusan perjuangan untuk ummat dan bangsa.

Dengan demikian PAN harus segara menyadari bahwa, Muhammadiyah sebagai sebuah lembaga sosial keagamaan transformatif, memiliki sumber daya kader yang tersebar di seluruh pelosok tanah air dan tentu memiliki kapasitas sumber daya yang terukur. Jika hubungan masa lalu PAN dikonstruksi kembali dengan perspektif yang lebih visioner, maka ini akan menjadi energi segar bagi PAN untuk mengembalikan kejayaan sebagaimana yang telah terjadi pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Menurut Saya fenomena perkembangan partai politik beberapa waktu terakhir cenderung menimbulkan perpecahan, dan hal ini sebenarnya dipengaruhi persoalan-persoalan sepele dan pragmatis belaka. Bukan persoalan-persoalan substansial dan ideologis yang berkaitan dengan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Gejala perpecahan yang cenderung menimpah partai politik secara kasat mata merupakan akibat dari tidak termenejnya konflik-konflik tersebut dalam rangka mendewasakan partai politik dalam bentuk sikap dan cara mengambil keputusan partai.

Dengan demikian meremajakan kembali hubungan PAN dan Muhammadiyah dalam memantapkan konsilidasi politik dan demokrasi harus dipikirkan kembali. Terutama pada momentum Kongres PAN kali ini. Agenda Kongres kali ini harus menghasilkan kebijakan Strategis untuk membesarkan kembali PAN dalam bingkai Politik dan Ideologi yang sesungguhnya. Dengan harapan PAN akan terus konsisten pada gagasan sehat demokrasi dan khittoh perjuangan kerakyatannya. Semoga

Tidak ada komentar: